Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Stigma dan Cerita Tentang Japikir Sinaga

Stigma dan Cerita Tentang Japikir Sinaga

Saya punya cerita tak enak soal cap buruk ini saat masih kanak-kanak.

"Heii Japikir...kau belikan dulu rokok gudang garam merah di kedai mamakmu.." ujar Tulang Surung sambil memberikan uang receh kepadaku.

Aku bingung. Siapa si Japikir? Namaku Birgaldo. Bukan Japikir. Mengapa aku dipanggilnya Japikir?

"Ya tulang" jawabku sekenanya. Aku cuek saja. Mungkin Tulang Surung sudah pikun. Namanya juga masih bocah umur 6 tahun, tidak banyak tanya ini itu, mengapa begini mengapa begitu.

Aku berlari ke kedai kelontong mamak. Kami tinggal di rumah asrama polisi Jalan Jati Medan. Rumah sederhana itu disulap jadi kedai kelontong.

Sore hari aku melapor sama emak. “Mak.. siapa si Japikir...masak aku dipanggil Japikir sama tulang Surung?", tanyaku ingin tahu. Emak tertawa. Sambil mengupas kulit bawang emak cerita.

Adalah Japikir Sinaga, di era tahun 1970-an, memadu asmara dengan Santi Boru Butar-Butar di wilayah Simalungun, pinggiran Siantar.

Saking cintanya, Japikir tidak rela kehilangan kekasih hatinya ini.

Japikir memutilasi Santi Butar-Butar. Ia lalu memasak organ tubuh kekasihnya. Memakan jantung dan hatinya dan sebagian daging dan sop tubuh pacarnya diberikannya ke tetangga sekitar.

Ujung kisah cinta di kebon kelapa sawit pinggiran Pematang Siantar, Sumatera Utara akhir tahun 1972 itu menjadi kisah pembunuhan terheboh di tanah air. Indonesia geger saat itu apalagi Sumatera Utara.

Imbas dari peristiwa pembunuhan yang dilakukan Japikir Sinaga berujung olok-olok. Semua marga Sinaga dipanggil Japikir. Nama Japikir mendadak ngartis. Mirip kisah Sumanto kanibal pemakan mayat atau dukun AS di Deli Serdang.

Sejak saat itu, sebutan Japikir identik dengan marga Sinaga. Di lapo-lapo tuak cerita Japikir jadi trending topik, istilah jaman sekarang. Kisah cinta paling tragis sepanjang sejarah yang berujung semua marga Sinaga terkena getahnya. Padahal apa hubungannya si Japikir dengan aku bocah kecil yang tidak tahu menahu? Aneh.

Orang Batak memang punya budaya khas. Budaya Batak itu diikat oleh falsafah dalihan na tolu. Ikatan kekerabatan antar marga yang saling kait mengkait. Setiap orang Batak memiliki family name atau nama keluarga.

Contohnya saya adalah keturunan nomor 17 Sinaga dari cabang Bonor Pande. Berarti generasi ke 17. Ayah saya generasi ke 16. Semua marga Sinaga tentu akan merasa dekat bila bertemu meski secara kekerabatan sudah jauh. Orang Batak menyebutnya dongan tubu atau kawan satu darah dari moyang Sinaga pertama.

Kekuatan falsafah dalihan na tolu ini membentuk tata nilai masyarakat Batak yang menjaga adat dan istiadat tetap lestari.

Dimanapun orang Batak berjumpa, entah di Amerika atau Rusia, mereka akan mudah akrab mesra apalagi jika satu marga. Pembicaraan akan di mulai dengan cerita asal usul atau tarombo. Dari cerita silsilah itu akan tahu di mana bertemu garis keturunan nenek mereka. Hebat bukan?

Nah itu sisi baiknya. Sisi buruknya tentu saja seperti yang aku alami saat masih bocah. Cap atau stempel seperti Japikir tiba tiba menempel di wajahku. Padahal apa urusannya si Japikir yang tinggal di luar kota Medan dengan aku yang tinggal di Kota Medan? Kenal saja tidak. Jumpa saja tidak pernah. Ujug-ujug hanya karena ada embel embel marga Sinaga di belakang namanya apakah otomatis aku seperti si Japikkir? Sebel tau!!

Oleh : Birgaldo Sinaga

NB : Artikel ini adalah hanya sebagian. Versi yang selengkapnya sudah pernah diposting pada 12 Agustus 2017 di Facebook dengan judul Stigma.

Post a Comment for "Stigma dan Cerita Tentang Japikir Sinaga"