Asal Usul Kata Hurje, atau Panggilan Untuk Babi di Tanah Batak

 
Asal Usul Kata Hurje, atau Panggilan Untuk Babi di Tanah Batak

Once upon a time, pada jaman dahulu kala, tersebutlah sebuah desa entah berantah di Toba sana. Hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Sebut saja namanya si Joltub bermarga “xxx” (maaf, untuk menghindari fitnah terhadap marga tertentu, jadi marganya disensor ya...!) dengan istrinya yang saaaangat cuantik di jamannya. Namanya adalah Madesu. (mungkin istrinya dari Bali).

Suami-istri tersebut memiliki seorang anak laki-laki namanya si Mokkus. Hidup mereka bercocok tanam atau bertani seadanya. Tanah merekapun hanya beberapa rante saja. (1 rantai : 20 m x 20 m) Jangan bayangin rantai anjing ya...!

Saat paceklik tiba, hasil panen tidak dapat lagi diandalkan untuk menopang hidup mereka selama setahun ke depan. Merasa putus asa, Joltub berbicara dengan istrinya Madesu :

”Ma’e.. anak kita sudah besar.. aku tak ingin melihat dia hidup susah nantinya. Kita harus memiliki cukup uang agar anak kita bisa sekolah ke luar nagari untuk masa depannya." (Nagari : sebutan wilayah kecamatan di jaman Belanda).

Madesu terdiam dan menangis sambil menyahut:

”Pa’e.. kita kan nggak punya harta, darimana pula kita dapatkan untuk biaya sekolahnya di luar nagari?”

Si Joltub berusaha menenangkan istrinya. Dia mencari cara mengatasi masalah tersebut tanpa solusi dan berkata:

”Begini saja say, kita mintalah sepasang babi dari bapak mertua di Bali, lalu kita akan pelihara, setelah beranak pinak, akan kita jual ke pokkan (pasar). Uangnya kita tabung untuk biaya si Mokkus nantinya. Aku yakin bapak mertua akan mengerti.” Red : ”Apa kubilang kawan.. betul kan.. dari Bali" ☺☺☺

Akhirnya Joltub mengirim surat kepada mertuanya di Bali. Mertuanya termasuk orang berpengaruh di Bali, masih berdarah biru, I Made Ketut Bagus Anune namanya.

Singkat kata, singkat cerita, sang mertua pun menyanggupi. Mereka mulai berternak sepasang babi tersebut hingga beranak pinak. Bulan demi bulan terlewati, jumlah babi berlipat ganda. Saking banyaknya, babi-babi tersebut dibiarkan berkeliaran untuk mencari makanannya sendiri yaitu ubi-ubian atau sayuran yang tumbuh secara liar di harangan (hutan) atau di jurang-jurang dekat sungai.

Mokkus yang ditugaskan untuk menjaganya sebagai gembala sapi, eeh babi. Setiap sore si Mokkus harus sudah mengumpulkan babi ke kandangnya di belakang rumah. Tak jarang si Mokkus kewalahan untuk mengumpulkannya. Karena babi memang susah diatur.

”Dasar babi kalian!” Umpatnya jika kesal. 

Setiap sore dia selalu teriak sekuat-kuatnya di dalam hutan atau jurang.

“Jenek hamu tuson babiiii... Jeneeekkkk... hamu.... babi!!!” Teriaknya.

Babi-babi memang ada yang mendekat, tapi ketika si Mokkus berhenti berteriak, babi-babi itu pun berhenti mendekati asal suara itu.

”Hurang jenek dope hamu babiiiiiii!!!!” Teriaknya lagi.

Babi-babi pun mendekat tapi jika suara teriakan itu berhenti. Begitu seterusnya.

Kemudian Mokkus mencari akal bagaimana supaya babi-babi itu menuruti kata-katanya dan dia tidak capek berteriak. Lama-lama, teriakannya pun dipersingkat :

”Hurang jeneeeek, babiii!!!!! Hurang Jeneeeeek...!!!"

Begitu seterusnya sehingga untuk efesiensi tenaga dan suara, dan lambat laun menjadi :

 “Hurang Jeneeeekkkk!!!” Huraaangg Jeneeek!!! Hurjeeeekkkkk...Hurjeeeeeee!!!" 

Begitulah awal ceritanya, mengapa sampai sekarang, orang-orang di kampung kalau memanggil babinya yang berkeliaran berteriak : ”HURJEEEEEEEE!”

Pendek cerita, jadilah "hurje" yang disingkat dari kata “Hurang Jenek” atau "Kurang Dekat".

NB : Banyak binatang bisa terlatih dengan kata perintah sederhana yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus. Dengan demikian, secara sistematis perintah tersebut tersimpan permanen di dalam otaknya atau sugesti.

Cerita diatas hanyalah cerita fiktif belaka dan khayalan penulis. Jadi karena hanya imajinasi saja, mohon jangan dijadikan mitos atau hikayat bagi anak cucu Anda. 

Coretan ini murni hanya untuk hiburan semata. Mohon maaf bila ada kesamaan nama atau cerita, bukanlah tanggung jawab penulis. Terimakasih..

Salam sehat dan semangat pagi..

Post a Comment for "Asal Usul Kata Hurje, atau Panggilan Untuk Babi di Tanah Batak"