Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gunungku Pusuk Buhit

Gunungku Pusuk Buhit
Foto : Gunung Pusuk Buhit. Sumber : Facebook, Suhunan Situmorang

Dipercaya sebagian orang Batak gunung suci, kuil pemujaan Mulajadi Nabolon, yang awal dan yang besar. Juga tempat Si Raja Batak turun ke bumi, manusia Batak pertama. 

Tempat para orang-orang suci dahulu kala bermukim dan bersembahyang, roh mereka diyakini masih di sana, turun naik ke langit, singgasana yang maha kuasa. 

Sejak kanak, aku telah akrab dengan gunung yang kemudian disebut para ahli gunung berapi sisa ledakan megavolkano Gunung Toba yang menciptakan kaldera-kaldera Danau Toba.

Setiap bangun pagi, dari halaman rumahku, memandang ke arah barat, terlihatlah Pusuk Buhit yang kadang diliputi kabut. Dari tepi danau dekat rumahku, ia lebih jelas lagi. 

Sejumlah mitos dan legenda telah akrab di telingaku, dituturkan para tetua yang masa itu gemar bercerita. Konon, penghuni dan penguasa gunung tersebut, "Namartua Pusuk Buhit." Ia gaib, sakti mandraguna, saat tertentu turun dari puncak gunung melintasi lorong curam perbukitan Tanjung Bunga, menuju Danau Toba. 

Ia hanya turun pada malam tertentu, saat bulan purnama memancarkan sinar keemasannya dari langit yang cerah; membuat permukaan danau yang gelap penuh kemilau.

Namartua Pusuk Buhit, disebut para tetua, tak suka mendengar ocehan jorok dan perilaku buruk, maka barangsiapa yang mendekati wilayahnya harus menjaga mulut dan sikap. Ia bisa murka, mengakibatkan cilaka dan petaka. 

Maka, dahulu, Pusuk Buhit bukan area pendakian untuk menyalurkan hobi atau bentuk keisengan. Ada banyak pantangan, membuat anakmuda enggan mendekati karena takut cilaka. 

Sampai aku kelas enam SD, saat tertentu, masih kulihat di kaki gunung itu, di kampung Siogungogung, orang-orang melakukan ritual dengan meletakkan berbagai sesaji di atas rerumput tepi jalanraya. Mereka menghadap barat, berpakaian putih dan ulos, melakukan gerakan-gerakan menyembah ke arah puncak gunung yang tak terlihat. 

Mereka sisa penganut kepercayaan Batak kuna, namun perlahan meninggalkan tradisi dari leluhur mereka, mengkonversi agama keyakinan menjadi Kristen atau Katolik. Barangkali karena pengaruh lingkungan atau social pressure.  Orang-orang Samosir semakin meminggirkan yang masih menganut kepercayaan para leluhur--pra kekristenan. 

Tetapi, masih banyak yang percaya, wilayah Pusuk Buhit hingga Aekrangat (airpanas berunsur belerang masih keluar dari perut gunung yang mengalir ke danau sampai sekarang dan jadi lokasi wisata) itu bukan daerah sembarangan. Ada keramat-keramat yang menghuni, yang entah ke mana semua gerangan karena keangkeran kian berkurang--bahkan banyak yang tak peduli menjaga omongan dan perilaku, dan "fine-fine aja".

Banyak pula yang percaya gunung ini tempat menyampaikan permohonan, maka para politisi atau yang ingin jabatan di pemerintahan, sedia mendaki seraya membawa sesajen--antara lain kambing dan ayam hidup yang kemudian disembelih di dekat puncak gunung. 

Dukun-dukun yang masih eksis di sekitar Tano Batak dan Sumut, memang sering membawa "pasien" mereka ke Pusuk Buhit; melakukan upacara dan ritual khas mereka. 

Aku tak pernah mencela siapa pun yang mensakralkan Pusuk Buhit. Sejak kecil, aku terbiasa bersikap moderat, juga pengen tahu ritual-ritual yang disampaikan terhadap sosok atau entitas yang dipercayai orang-orang eksistensinya. Aku penyuka tradisi dan kebudayaan, tertarik ritual-ritual kultural maupun yang berunsur spiritual. 

Keyakinan orang lain, yang tak sama dengan keyakinanku, bukan urusanku. Prinsipku sampai kini: sepanjang tidak merugikan orang lain atau publik, tak ada alasanku mempermasalahkan. 

Tetapi, bila aku masih tetap menghormati Pusuk Buhit dan Danau Toba, semata-mata karena kecintaanku pada alam, apalagi sejak kanak telah dekat. Di tengah rasionalisme dan iman kepercayaanku, tak mau pula aku gegabah atau lancang menghina yang diyakini dan dihormati orang lain, para keramat atau penghuni danau yang sejak kecil telah kudengar dan menyaksikan ritual menghormati "mereka." 

Semua itu kuanggap kekayaan budaya dan tradisi, I don't care apakah itu disebut animisme, penyembah berhala, sipelebegu, dan sebagainya, karena tak menjadi gangguan bagiku. 

Maka, Pusuk Buhit tetap kujadikan gunungku, senang memandangnya dari berbagai sudut. Seperti ada ikatan emosionalku, tetapi cukup sebatas itu. Sure. 🤗

Oleh : Suhunan Situmorang

Post a Comment for "Gunungku Pusuk Buhit"