Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

"Dos ni roha do sibaen na saut", Propaganda yang Kerap Dipakai untuk Membenarkan Pelanggaran Adat Batak

"Dos ni roha do sibaen na saut", Propaganda yang Kerap Dipakai untuk Membenarkan Pelanggaran Adat Batak
Rumah Adat Batak Toba
"Dos ni roha do sibaen na saut." Artinya: kerjasama adalah kunci keberhasilan untuk mencapai suatu hal yang direncanakan.

"Boi do bapak tirina manjalo sinamot ni boru tirina. Saonari on nunga godang na mangulahon na songoni, dos ni roha do sibaen na saut." Begitu pendapat sebagian orang Batak tentang kejadian boru Nainggolan yang mempermasalahkan siapa sebenarnya yang berhak menerima sinamot (mahar) ketika seorang boru Batak (wanita Batak) menikah secara Adat Batak, yang viral di akhir bulan Januari 2022 ini.

Jawaban penulis: Sah² aja bagi yang mau melanggar aturan Adat Batak (ruhutruhut ni Adat Batak). Toh, yang melanggar adat seperti ini tidak akan bisa terjerat oleh hukum negara. Jadi percuma juga dibantah. Bagi yang mau melanggar, ya silahkan..

Zaman sekarang ini apa yang nggak bisa diubah? Jadi nggak heran lagi, kalau ada oknum raja parhata dan sebagian orang Batak yang sesuka hatinya mau merubah aturan Adat Batak sesuai seleranya.

Songon hata ni umpasa:

Eme na masak digagat ursa
Ia i namasa, ima niula
Melanggar adat halak
Melanggar adat ma dohot iba

Aek godang do aek laut
Dos ni roha do sibaen na saut
Dos ni roha melanggar adat pe taho, asal ma saut/jadi pesta i

Daripada so marpesta kan? Sanga lari annon calon hela sigodang hepeng i..

Padahal, secara logika "dos ni roha" itu ada, tujuannya digunakan untuk mencapai suatu rencana yang baik, tanpa ada pelanggaran. Bukan digunakan untuk tujuan melanggar Adat Batak.

Tidak perlu bawa² ayat Alkitab, ajaran Kasih, "dang adong be holong" atau tidak sesuai dengan "patik palimahon", dan lain sebagainya. Karena kenapa? Ketika kamu tidak menghargai dan bahkan melanggar aturan adat yang dibuat oleh leluhurmu, bagaimana kamu bisa menghargai ajaran Alkitab?

Makna "kasih" dalam Adat Batak itu tegas, yaitu menghargai aturan Adat Batak dan menghormati semua pihak yang "berhak" ikut berperan dalam menjalankan Adat Batak itu sesuai aturan yang sebenarnya. Kita harus paham apa hak dan kewajiban kita, kita juga harus sadar diri bahwa kita tidak bisa sembarangan menerima yang bukan hak (jambar) kita. Ketika kita menerima yang bukan hak kita, ya itu kan sama aja mencuri, karena tidak menghargai pihak sebenarnya yang berhak menerima hak tadi (jauh dari makna kasih). Sifat kasih itu tidak melanggar aturan Adat Batak.

Perlu dipahami..

Yang bisa mangamai (wali) dan berhak menerima sinamot itu harus orang yang "sedarah" dengan pengantin wanita. Yang sedarah dengan pengantin wanita itu adalah ibu kandungnya, bapak kandungnya, ito'nya (saudara laki-laki), amangtua'nya atau amanguda'nya (saudara laki-laki dari bapak kandung).. BUKAN BAPAK TIRINYA.

Masalah karena bapak tiri udah berjasa membesarkan dan menyekolahkan anak tirinya setinggi²nya, lalu kemudian bapak tiri berharap mendapat "imbalan jasa" dari anak tiri. Anak tiri boleh saja memberikan uang yang banyak (hepeng 1 goni, lobi sian arga ni sinamot i. Anggap aja anak tirinya udah sukses, songon si Luna Maya) dan harta yang mahal ke bapak tirinya, tapi secara jalur pribadi. Bukan secara Adat Batak, bukan HARUS ikut menerima sinamot. Alasannya, karena dalam aturan Adat Batak, bapak tiri itu tidak masuk hitungan atau tidak berhak menerima hak adat di pernikahan anak tirinya.

Adat Batak itu tegas, songon hata ni umpasa:

Ompunta sijolojolo tubu
Martungkot sialagundi
Na pinungka ni ompunta na parjolo tubu
Siihuthonon ni hita pinomparna na parpudi

Dalam Adat Batak, Marga dan Adat Batak itu tidak bisa dipisahkan. Marga tidak bisa diganti. Marga bukan hanya simbol identitas di belakang nama orang Batak yang diturunkan dari ayahnya, tapi marga sangat berperan penting dalam Adat Batak. Adat Batak menganut sistem Patrilineal. Patrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan yang berasal dari pihak ayah.

Tujuan marga itu adalah menjunjung tinggi nilai Adat Batak dan menjaga harga diri orang yang menjalankan Adat Batak itu sendiri.

Adat Batak tidak bisa lepas dari Dalihan na tolu:
  1. Somba marhula-hula (sikap hormat kepada keluarga pihak istri)
  2. Elek marboru (sikap mengayomi kepada saudara perempuan)
  3. Manat mardongantubu (sikap berhati-hati kepada saudara laki-laki atau semarga)
Ido alana halak Batak, sai dimemehon angka poda na denggan tu angka ianakhonna. Asa burju marnatua-tua, ringgas mula ulaon, ringgas martangiang, ringgas marsiajar (rajin belajar, termasuk mempelajari sesuatu yang baru), serep marroha, malo martutur (selalu mengedapankan etika atau sopan santun), jala unang olo mangulahon angka na so denggan. Tujuanna, asa unang sega citra ni marga i, jala asa unang adong dalan ni halak lao mandege-dege harga diri ni nampuna marga i. Horas..

#Batak #AdatBatak #RumahAdatBatak #RumaBolon

Post a Comment for ""Dos ni roha do sibaen na saut", Propaganda yang Kerap Dipakai untuk Membenarkan Pelanggaran Adat Batak"