Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Partuak Online Shop

Partuak Online Shop

Saor tampak senyum-senyum di atas bagot, paragat ditangan kiri, handphone di tangan kanan, dia membalas komen-komen yang masuk di Facebooknya. Kaki kanannya yang marbirong bertumpu di batang meang, kaki kirinya yang masak-masakon bertumpu pada sige. 

Daun simarate-ate, bulung ni suhat, tali rafia terisi di hande-hande motif ulos, tak lupa power bank yang sudah tak berwarna karena selalu kena gota dan tetesan tuak. Saor tampak senang dengan notifikasi di Facebooknya. Saor hari ini update status:
 "Tuak Botari on, Tuak Perawan... tetesan tuak pertama dari bagot di robean parbeguan. Tambul: Hudi nasinaok, palia, jagal galot. Tamu: Kepala Desa Lumban Sipahut dan Jajarannya"

Saor selalu update status untuk mengiklankan lapo dan pelayanannya. Di status WA pun Saor selalu buat status, dan juga di Instagram, Saor tampilkan gambar gambar tuak dan tambul. Untuk menarik minat pelanggan, Saor juga tak lupa mengumumkan tamu pendatang dan topik bahasan aktual di lapo, juga hiburan yang tersedia.

Minggu lalu Saor update status:
"Tuak sore ini, beli dua botol dapat satu, stock terbatas, discount 10% tiap menu tambul pilihan. 
Tambul: Ulu ni biang, pare bak-bak, simanjo na tinunde. Bintang tamu: Amani Manguntor (politisi). Topik: Suksesi daerah/pilkada dan loyalitas pemilih Lumban Sipahut. 
Hiburan: Sulim dan Uning-uningan dari lae kami Didang Tobing."

Kemarin Saor juga update status: "Maaf bagi orderan yang belum terpenuhi, karena banyaknya tamu hari ini, dan akhirnya kami harus import tuak dari Ujung Tanduk. Terimakasih untuk lae Ferry Pangaribuan yang telah membantu subsidi dua jeregen tuak.. Terima kasih buat ito Nora Saragih Turnip atas tembang tembang lawas Bataknya."

Begitulah Saor menjalankan usahanya, dengan menggunakan tekhnologi komunikasi modern, dia mampu merebut pasar, Saor juga sudah mulai mengembangkan bisnisnya dengan membuka beberapa gerai lapo tuak di tempat-tempat yang menurut dia merupakan daerah potensial. Saor mampu merubah cara market konvensional ke arah modern dengan tetap menjaga rapi ciri tradisional kuliner etniknya.

Saor begitu piawai untuk menilai cita rasa tetesan tuak hanya dari aromanya. Sekali cium aroma aroma tuak dalam jeregen, Saor pasti berkata: 
"Ohhh.. On tuak ni Parsoburan do on...hmmmm.. Molo on Tiga Dolok, hmmmmm, on tuak sian Porsea ma on, ahhhhh.. lambok, hushus, gumona pe hottot, raruna pe apala pas. Molo on, pasti tuak sian Huta Tinggi..."

Begitulah Saor yang mendedikasikan dirinya untuk bisnis tersebut. Banyak yang memberi apresiasi untuknya, tapi ada juga yang sirik dan membenci. 

Lapo di ujung huta, di pinggir robean, kini tinggal kenangan, Itu adalah lapo Nai Holit Mangging, dan kini karena laponya sudah tutup. Nai Holit Mangging beralih usaha menjadi mandurung simanjo. Nai Holit Mangging adalah salah seorang yang menyimpan hosom di hati ke Saor.

Lapo yang masih eksis walau terlihat muram adalah lapo Nai Mantik, seorang na mabalu naposo di Lumban Sipahut, lapo itu masih buka hingga jam 10 malam. Pelanggan loyalnya adalah Sintua Orgos, Amani Manguntor anggota dewan, Tobok doli-doli na matua, Ponot bandit lapa-lapa, dan Amani Unggal si raja bondar.

Saor selalu membuat sesuatu yang baru, istrinya yang tamatan SMK tata boga kreatif dengan hidangan khas bercita rasa khas Lumban Sipahut, dan dialah Mian, parsonduk bolon parroha na lambok. Mian juga aktif di media sosial bukan hanya mengurusi tuak online shop, tapi juga membuat berita dan iklan. Dia sering upload: "Dibutuhkan dua ampang eme siredek untuk same, hubungi Lapo Saor." 

Kadang dia upload:
"Lapo Saor: Kami tak hanya sedia tuak dan tambul, kami juga menyediakan auga, dolung, rogo, panasapi, rabi, hirang, ampang, tumba, parrasan, hotor, amak panjomuran, halung-halung pinahan lobu, kawat sungil-sungil, borotan, takke, dsb."

Mian juga sering buat pengumuman seperti: 
"Nunga sorang sada dakdanak baoa ni inatta ni mandur, asa udur hita melek-melekan di bodari ni ari Sabtu on, unang lupa boan hamu mandar, dohot angka na hombar tu ulaon i. Mauliate."

Mian istri Saor, wanita cantik dan selalu tampil modis, dengan busana yang kelihatan wah.. Maklum demi menjaga pelanggan, Mian harus tampil lebih mempesona. Mian setiap hari senin, hari waktu maronan, selalu menyempatkan diri memilih-milih burjer untuk dibelinya. Mian juga selalu rajin marbadak dingin dan creambath memakai lidah buaya dan gambiri na tinutung, dan memang penampilannya selalu menjadi perhatian para paranduhur, tokke horbo, pardampol tongosan, tokke haminjon, pargulamo, parmiak, parhau parsimanobak, pangajar koor, japang japang dan semua para pelanggan tetapnya. 

Sosok Mian menjadi sentral informasi di Lumban Sipahut, karena Mian mampu menyerap semua pembicaraan lapo, dan menyampaikan kepada orang-orang. Mian juga penengah yang adil dalam parbadaan Lapo maupun Huta. Terlihat bagaimana Mian menjadi juru runding ketika parbadaan bolon Nai Unggal dan Nai Barbar.

Parbadaan masijanggolaan yang berawal dari tuhe parbalohan. Nai Unggal yang menarik tali hotor merasa balok sudah tak lagi lurus, lalu dia manalik-naliki:
 "Ueee tahe.. Bereng hamu on hutaaaaa!!!!! Dieak ma on ganup taon, naso mangan be haroa jolma on... Laos so tatapanmu be na tama tu joloan on.... Sambor ma nipim, sai marari kamis ho, partangiangan, hera guru zending ma rumangmu, hape mangeahi ho.."

Nai Barbar yang sedang mangarogoi di haumanya tersinggung, karena hata salik-salik itu pasti untuknya, dia berdiri membuka saong-saongnya, membuang sukkil dimulut, tangan kirinya ditopangkan di pinggang, tangan kanannya memegang rogo, lalu berteriak: "Ai aha do nimmu boru ni hatobannnn...? Au do hape na nidokmu!!!... Sai hupasip, lam rarat babam!!!.. Aha na niasanghononmu?? Unang dok au boru ni damang, anggo so jolo huparsalawar igungmi!!." Katanya dengan suara cempreng. Nai Unggal melempar pattik-pattik tali hotor, juga membuka saong-saongnya, mendatangi Nai Barbar dengan wajah beringas. Nai Barbar tak mau kalah, maju ke depan dengan wajah bengis menjawab tantangan, dan mereka bertemu tepat di burrak-burrak. 

Nai Unggal menerjang, Nai Barbar langsung manjanggola rambut Nai Unggal, naluri wanita dalam pertempuran mempertahankan diri, reflek Nai Unggal langsung manjanggola rambut Nai Barbar. 
Mereka bergumul saling masijanggolaan, masibobakan, dan diselingi suara suara mereka dalam gemuruh amarah: "Hahhhhhhkkkhhh, ingkon mate ho!!! Agoiiiii amnggghhh, hupisatttt ma hoooo.."

Perkelahian sengit kedua perempuan itu begitu meluluh lantakkan sekitar, mereka terjebak di burak-burak gambo, saling membenamkan kepala lawan, dan tak sadar kancing baju mereka semua sudah terbuka. Hirik, situma, simanjo, siborok, sidohar, sikke, attingango menjadi saksi diantara mereka. Lambaian bulung haleo tertiup angin seakan menyemangati. 

Semua pangula di hauma berlarian ke arah mereka, Ponot bandit lapa-lapa tiba duluan, dia tidak langsung melerai keduanya, tapi matanya begitu tekun melihat dada-dada yang kini sudah tak berpenutup, dan matanya teliti melihat yang mana Nai Unggal ina-ina termuda. Bagai seorang pahlawan penengah, Ponot langsung maju ke tengah, mendekap tubuh Nai Unggal dan membelakangi Nai Barbar tentu dengan terlebih dulu melepaskan tangan-tangan yang masijanggolaan. 
Nai Unggal masih berontak belum puas, tapi dekapan Ponot seakan gota ni hariara yang merekat. Ponot makin menguatkan dekapan di dada Nai Unggal. 
Ompu si Sakkot doli pun datang menyusul, lalu menarik tangan Nai Barbar
 "Nungga, nungga Inangbao... Nga sae be i." Kata Ompu Sakkot menenangkan. Tapi emosi Nai Barbar belum usai, dia masih meracu.

"Palua Amang.....!! Asa hubarbar jo baba ni on.." Katanya memberontak. Ompu Sakkot, Amangbaonya itu tak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, langsung mendekap Nai Barbar dari depan. Nai Barbar terus menggeliat melepaskan dekapan Ompu Sakkot, akhirnya mereka terdiam saling menatap dalam-dalam dan agak lama. 

Tiba-tiba Nai Barbar tersadar bahwa kini dia dengan dada terbuka dalam dekapan Amangbaonya. Dia dengan perlahan dan terlihat lunglai melepas dekapan dan mendorong halus dada Amangbaonya. Berbeda dengan Nai Unggal yang sudah dari tadi sudah terdiam mematung dalam dekapan Ponot. 

Perkelahian disudahi, dan mereka berempat menuju lapo Saor diikuti para pangula Lumban Sipahut. Mian mempersilahkan mereka duduk, Mian menyiapkan tuak dan tambul sikke nanitunde. Tampak tangan-tangan margambo berlomba meraih sikke dari tapak, tuak pun begitu cepat melintasi kerongkongan yang dahaga. 

Mian berhasil menyelesaikan perkara di atas sipanganon, dan akhirnya Nai Unggal dan Nai Barbar berdamai dengan tuak yang melemahkan syaraf emosi. Begitulah Mian yang selalu dipercaya bisa mendamaikan perkara. Baginya kebersamaan dan damai itu sederhana, hanya "Tuak dan Tambul." Itulah status Facebooknya. 

Mian juga selalu siaran langsung untuk menunjukkan aktivitas yang ada di lapo. Dan pastinya Marusaha, tokke gadong yang selalu setia mengikutinya di Facebook dan pasti komen: "Bah... Aha tambul sadarion, Ito?"

Bila sore menjelang, Mian selalu menyirami bunga terangga di halaman lapo, dan tak lupa dia posting keindahan itu di Instagramnya. Saor dan Mian menuai sukses dalam menjalankan lapo modern dengan menggunakan technologi serat optic, dan juga membantu seluruh lumban dengan media informasi cepat tepat guna. 
Lapo modern dengan sapuan etnik Batak, gorga dan aksara Batak menghiasi tiap sudut lapo, dan Saor akan sibuk dengan bisnis online delivery order tuak dan tambul. 

Tapi sesibuk apapun itu, mereka tidak lupa untuk memberi waktu menjaga kebersamaan, mereka berdua terkadang duduk berduaan di tepian bondar, sambil membiarkan kaki keduanya dibasahi aek, terkadang juga mereka berdua pergi ke bawah kaki dolok. Dibawah pohon hariara yang rindang, mereka berdua membentangkan lage, disanalah mereka tiduran dengan saling menatap. 

Yang paling mereka sukai adalah hujan di Lumban Sipahut, mereka akan sengaja bermain hujan, berlarian di atas rumput attalobung di adaran parmahanan, Saor terkadang menggendong Mian di gadu-gadu dalam derasnya hujan, dan setelah itu mereka kembali ke rumah, melanjutkan romantika dalam iringan irama khas musim penghujan. Itulah yang sering mereka lakukan untuk membung penat dan melepas belenggu sepi, karena memang sudah lima tahun pernikahan mereka belum mendapatkan berkat terindah, "Anak". Walapun begitu mereka akan selalu update di medsos: "Bahagia itu sederhana".

Begitulah indahnya kehidupan damai di Lumban Sipahut yang mengelabui waktu yang membosankan dengan kebersamaan, yang mampu belajar menjawab tantangan era neoliberal kapitalis untuk usaha dan mangula.

Berbeda dengan anak-anak perantau Lumban Sipahut, yang tak lagi bisa tiap hari mencicipi tuak perawan, yang sangat khas. Mereka memilih minuman botol dan lapo bernama Bar and cafe yang jika kau menginjaknya maka disitulah merasakan "Damai tapi gersang." Nikmat dengan dentuman musik underground, jazz, sesekali musik lokal. Tak ada suara trio, tak ada bunyi hasapi, dan tak ada suara merdu sordam.

Tuak hari ini sangat berharga, selain sebagai jamu sipaulak hosa loja, tuak juga ternyata memiliki kandungan alkohol yang mampu membunuh virus. Jadi peminum tuak bebas dari covid-19? Itu kita jawab masing-masing di hati.

Oleh : Lumban Sipahut

Post a Comment for "Partuak Online Shop"