Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Bunga Pengantin.

Sebuah kisah nyata dari seorang Pengantin Batak.


Aku masih bisa merasakan aroma bunga pengantin yang semerbak... Bunga pengantin idaman setiap wanita.

Bunga pengantin itu yang menjadi saksi betapa hancurnya hatiku diantara kemeriahan pesta pernikahan kami. Bunga pengantin yang jadi saksi bisu awal hancurnya rumah tanggaku.


Aku menikah dengan seorang pria bermarga 'M' tahun 2016 dalam sebuah pesta yang sangat meriah. 

Selama kami pacaran, aku melihat dia sebagai pria yang baik. Dan memang sebenarnya dia itu baik, hanya saja dia tidak terbuka sepenuhnya.

Saat kami akan menikah, aku tidak minta macam-macam, ada beberapa hal yang kami sepakati bersama.

Orangtuaku awalnya meminta nominal tertentu kepada keluarga paranak (pihak keluarga pengantin pria) sebagai sinamot (mahar). Wajar orang tuaku meminta, sebab itu hak mereka juga. 

Setelah terjadi tawar menawar Raja Parhata (Raja Adat) dari kedua belah pihak, akhirnya tawaran awal pihak paranak itu diterima keluargaku. 

Artinya apa? 
Tidak ada yang tambah bukan? 

Awalnya pihak paranak menawarkan memberi sekian, lalu pihak parboru (pihak keluarga pengantin wanita) minta sekian. Setelah terjadi pembicaraan akhirnya apa yang ditawarkan paranak diawal itu yang diterima pihak parboru

Artinya kan tidak ada penambahan apapun dari budget pihak paranak. Tapi niat baik orangtuaku menerima sinamot pemberian mereka dan niat baikku tidak meminta apapun kepada suamiku, ternyata tidak berbalas dengan apa yang aku harapkan. 


Selama persiapan pesta hingga hari H yang disepakati, tidak ada hal apapun yang terjadi. Semua baik-baik saja. Pesta kami pun terlaksana dengan meriah. 

Setelah pesta berakhir dan setelah pihak paranak mengantar rombongan pihak parboru sampai naik ke bus carteran, kami pun pulang dari gedung. 

Selesai sudah pesta pernikahan meriah itu...

Dalam tradisi orang Batak, setiap ada anggota keluarga yang menikah, maka malam hari setelah pesta pernikahan itu, keluarga besar paranak masih berkumpul di rumah. 

Masih ada acara internal keluarga..

Acara ini dimulai dari makan malam. Setelah itu dilanjutkan dengan memberi wejangan kepada pengantin baru dari orang tua dan semua anggota keluarga. Setelah itu pengantin akan mengucapkan sepatah kata pertama setelah status mereka berubah dari lajang menjadi berumah tangga. Acara terakhir adalah menghitung semua amplop (berisi tumpak/santunan) untuk mengetahui apakah pesta tadi untung, nombok atau impas. Supaya tau kalau misalnya nombok, berapa juta nomboknya agar bisa ditalangi bersama. 

Pesta orang Batak itu tidak pernah untung, jarang-jarang ada yang untung. Nombok 5 juta saja bagi orang Batak itu sudah terkategori untung daripada, nombok puluhan juta. 

Setelah semua urusan keluarga selesai, kami pun masuk ke kamar, istirahat. Jangan harap pengantin Batak ada istilah Malam Pertama, jarang-jarang juga itu terjadi sebab seharian pesta sangat melelahkan, capek...!!!

Selain kelelahan, banyak pasangan pengantin baru merasa risih dalam hal urusan ranjang saat situasi rumah masih ramai sanak saudara.


Sebulan setelah kami menikah..

Aku sedang memandangi bunga pengantin yang sengaja tidak aku buang usai pesta bulan lalu. Aku sengaja membawa bunga pengantin itu ke rumah kontrakan ini dan memajangnya di atas meja rias. Meskipun sudah, layu tapi aku masih dapat merasakan aromanya yang semerbak.
 
Dari cermin, aku melihat suamiku sedang tiduran sambil sesekali meremas rambutnya. Dia seperti banyak pikiran..

"Kenapa, Bang...?" Kataku memecah keheningan malam sambil beranjak mendekati suami.

"Gak apa-apa.." Kata suamiku.

"Sepertinya abang suntuk, ada masalah dikerjaankah?" Kataku meyakinkan suami. Suamiku masih diam. Aku berbaring disampingnya.

Tidak berapa lama, suamiku bercerita bahwa dia ada meminjam uang sama rentenir sebanyak 28 juta. 

Bagai tersambar petir, aku segera membalikkan badanku.

"28 juta untuk apa?" Kataku dengan nada tinggi.

Terang saja aku merasa panik mendengar utang 28 juta, apalagi selama ini aku tidak pernah berhutang lebih dari 500 ribu. 

"Untuk keperluan pesta kemarin." Kata suamiku.

"Keperluan apa? bukannya kemarin kita sudah bicara dan hitung-hitungan? Kan kemarin itu kita sudah hitung semuanya, tidak ada lagi yang kurang." Kataku semakin panik.

Suamiku diam saja..

"Keperluan apa? Sinamot yang diminta orangtuaku juga kan tidak jadi, orangtuamu membujuk aku agar memberi pengertian pada orangtuaku, agar mau menerima sinamot sesuai dengan budget kalian. Apa lagi keperluan yang kamu maksud?" Aku mencecar suamiku dengan pertanyaan.

"Untuk membeli seragam keluarga." Kata suamiku.

Aku tidak terima dengan alasan ini...

"Untuk seragam keluarga sampai 28 juta? Memangnya berapa ratus pasang rupanya seragam keluarga? Jujur saja kamu, jangan mengada-ada." Aku emosi.

Suamiku bersaudara hanya 4 orang. Suamiku anak paling kecil, satu orang abang dan dua orang kakaknya sudah berumah tangga. Kalau pun dihitung seragam mereka, paling juga cuma 4 pasang. Mertua dan 3 orang ipar, masa 28 juta? 

"Untuk yang lain-lain juga.. "Kata suamiku.

"Yang lain apa?" Kataku... 

"Banyak..." Kata suamiku.

"Banyak gimana? kan sudah gadai SK kemarin minjam dari Bank, sesuai kesepakatan kita." Aku semakin panik.

"Yang gadai SK untuk biaya pesta, yang pinjaman rentenir untu..."

"Untuk apa lagi...?" Aku memotong pembicaraan suami.

"Eehh banyak... " Kata suamiku.

"Banyak apanya? Jangan bertele-tele, untuk apa uang itu?" Kataku.

"Ongkos kakak dari Kaliman..."

Belum selesai suamiku bicara, aku langsung memotong

"Maksudmu semua ongkos kakak dan abangmu, jadi kau yang nanggung? Abang dan kakakmu datang beserta anak-anaknya dan kamu yang menanggung ongkos mereka PP (pulang pergi), enak betul kamu melimpahkan utang untuk aku?"

Aku meninggalkan suamiku di kamar..

Jam 12 malam, aku duduk diteras sambil menangis membayangkan utang 28 juta. 

Ternyata saat suamiku mengutarakan keinginannya untuk menikah, banyak sekali permintaan dari orangtua, kakak dan abangnya, belum lagi Namboru (bibi) dan Inangudanya (istri dari adiknya orangtua) juga minta dibelikan baju. 

Kata keluarganya, ini pesta terakhir di keluarga mereka, jadi harus meriah. Sebelum pesta, aku dan suamiku sudah membahas dan memperkirakan biaya. 

Waktu itu kami sepakat tidak memakai jasa penari sebab aku berpikir biaya untuk para penari tortor itu bisa untuk keperluan lain, toh juga ada atau tidak ada jasa penari tidak mengurangi nilai adat. Ternyata hari H ada jasa penari.

Kami sepakat untuk menghibur undangan Muslim/Nasional cukup memakai musik biasa. Ternyata pada hari H ada diundang Trio, penyanyi Batak asal Medan yang sangat hits di Media Sosial. Kata suamiku, ibunya sangat mengidolakan Trio yang viral di Facebook itu. 

Kami sepakat untuk tidak memberi souvenir kembalian kado, sebab aku berpikir orang orang yang kita undang juga pasti ikhlas datang tanpa mengharap souvenir. Karena aku juga, kalau ke pesta tidak pernah mengharap souvenir. Tapi pada hari H ada souvenir berupa Mug keramik lengkap dengan kotak hiasnya. 

Menu makan juga sudah kami sepakati, yang standar dan layak untuk sebuah pesta. Tapi pada hari H di halaman gedung ada tenda tambahan untuk pedagang sate, mie kuah dan ice cream. Ternyata keluarga suamiku sudah membooking tiga pedagang ini, untuk melayani para tamu mulai jam 12 siang sampai jam 3 sore. 

Kami juga tidak ada membicarakan jasa pengawalan polisi dari rumah menuju gereja dan gedung. Kami bukan orang terkenal, bukan konglomerat dan jalan yang kami lalui juga bukan ruas jalan yang macet, buat apa pakai jasa pengawalan polisi. Tapi pada hari H mobil pengantin kami dikawal oleh satu mobil polisi dan dua motor gede patroli di bagian paling depan. Kalah Ratu Elizabeth kami buat. 

Belum lagi seragam mereka, yang ibu-ibu bukan hanya seragam kebaya, anting, kalung, bahkan sampai mainan sanggulnya juga harus seragam.

Semua hal-hal yang bukan kebutuhan kami itu adalah permintaan dari keluarga suamiku. Alasannya supaya pesta kami meriah, sebab inilah pesta terakhir. Dan suamikulah yang harus mewujudkan mimpi-mimpi manis keluarganya. 


"Aku bingung bagaimana cara melunasi utang itu." Kata suamiku suatu hari.

"Itu utangmu, bukan utangku..." Aku menjawab suamiku dengan emosi.

"Tapi kau istriku, utangku adalah utangmu." Kata suamiku.

"Enak aja mulut kau ngomong, ada rupanya kau bilang samaku waktu kau mau minjam uang ke rentenir itu?" Aku tidak mau kalah, aku lawan suamiku.

Kami semakin sering bertengkar...

Aku sangat menyayangkan suamiku tidak meminta saran padaku tentang segala permintaan keluarganya. 

Suamiku nurut saja, berlagak punya duit. Emang berapa puluh juta gaji PNS? 

Apa dibilang Namborunya, disanggupi. Apa dibilang kakaknya, disanggupi.

Mau pinjam ke Bank tidak bisa, SKnya sudah tergadai untuk biaya menikah, jalan tercepat adalah minjam ke rentenir dengan bunga 20%.

Saat dia mau pinjam ke Bank, dia diskusi dengan aku, dan aku mendukung. 

"Sama nanti kita menutup utang itu bang." Kataku memberi semangat. 

Tapi kalau minjam ke rentenir dengan nominal yang besar, aku tidak setuju. 

Kenapa suamiku tidak terus terang?

Aku cuma seorang perawat di rumah sakit swasta, kalian tau seorang perawat itu hanya menang baju dinasnya aja yang keren, padahal gajinya pas-pasan.

Aku tidak punya SK apapun yang bisa aku gadaikan, tapi seandainya suamiku jujur, bukankah bisa dibicarakan jalan keluarnya?

Kalaupun semua permintaan yang tidak penting dari keluarganya itu harus dikabulkan demi sebuah kemeriahan pesta terakhir, harusnya masih ada jalan lain asalkan suamiku jujur. Aku masih punya kakak seorang PNS, aku bisa saja minta bantu kakak untuk minjam ke Bank dengan bunga yang ringan dan dengan jangka waktu yang lama, tidak harus ke rentenir. 

Suamiku tidak jujur...

28 juta ke rentenir dengan bunga 20%, bagaimana mungkin kami bisa melunasi itu? Kalau tadi cuma sejuta, bisalah diputar-putar mengolah uang belanja. 28 juta mau bayar pakai apa? Bunganya saja sudah lebih besar dari gaji kami. 


Masih dua bulan kami menikah, rasanya sudah seperti neraka. Setiap hari kami bertengkar. Apapun pembicaraan, larinya ke utang dan ujung-ujungnya kami bertengkar.

Suatu hari saat aku dinas malam, suamiku mengirim pesan WhatsApp.

"Aku pulang ke rumah mamak..."

Aku tidak balas pesan itu.

Besoknya aku masukkan baju secukupnya ke dalam tas, aku juga pulang ke rumah orangtuaku. 

Kami sama sama bekerja di kota PKU. Orangtuaku tinggal di kota ini juga, sementara mertua tinggal di kota Kabupaten, dan kami mengontrak rumah yang dekat dengan tempat kerjaku dan suami.

Berhari-hari aku dirumah orang tuaku, mamak mulai curiga..

"Kenapa kalian?" Kata mamak

Aku menceritakan semuanya..

Malam harinya, bapak menelepon mertuaku untuk membicarakan masalah kami. Dua hari berikutnya, orangtuaku pergi ke rumah mertua. 

Betapa baiknya orangtuaku, demi menyelamatkan rumah tangga kami, rela mereka yang mendatangi pihak suamiku. 

Terbalik, seharusnya mertuaku yang berupaya menyelamatkan. 

Tapi niat baik keluargaku harus berbuah sakit hati. 

Sepulang dari rumah mertua, aku melihat amarah di wajah bapak.

"Botul do natuatua . . . (disensor)" Kata bapak sambil menyalakan rokok.

"Aku datang ke rumahnya untuk menutupi utang anaknya, tapi bisa pulak dia lepas tangan." Kata bapak dengan emosi.

"Kalau begini ceritanya, sirang pe taho (cerai pun jadi)." Kata bapak marah.

"Maksud bapakmu tektekanlah kita menutupi utang kalian, berapa dari kita berapa dari mereka. Kalau masih belum cukup, dijuallah apa yang ada. Tapi mertuamu tidak mau, gak ada uang katanya." Kata mamak memberi penjelasan. 

"Kumpulkanlah dari anaknya semua, karena kalau tadinya mereka mau menerima saranku, pastinya juga aku akan mengumpulkan dana dari abang kakakmu." Kata bapak masih dengan wajah penuh amarah. 

Betapa baiknya orangtuaku. Demi menyelamatkan rumah tanggaku, sampai bapak berencana melibatkan abang dan kakakku membantu menutupi utang ke rentenir itu. Sayang sekali niat baik orangtuaku tidak disambut baik mertuaku. 

Keluarga mertuaku cuma mau enaknya saja, 
Cuma mau meriahnya saja, 
Cuma mau pesta terakhirnya saja,

Padahal kalau mereka tidak minta-minta kemeriahan pesta ke anaknya, pastinya suamiku juga tidak akan jatuh ke tangan rentenir. 

Eda-edaku (saudara perempuan dari suami) juga mau enaknya saja, dibayari tiket pesawat PP beserta anak anaknya. Giliran adiknya terlilit utang, semua bilang: "Gimana lagi, kami pun gak punya uang."

Sayang sekali suami yang aku cintai, yang aku sayangi, yang aku harapkan bisa menjadi pelindungku, ternyata tidak pandai memilih "MANA DAN SIAPA YANG JADI PRIORITAS"


Tiga tahun sudah kami menikah, tapi hanya dua bulan kami serumah. 

Kemeriahan pesta pernikahan itu telah menghancurkan rumah tanggaku. 

"BUNGA PENGANTIN yang aku impikan, ternyata BUNGA UANG yang aku dapatkan."

Aku membagikan kisahku ini agar orang-orang yang membacanya dapat mengambil hikmah dari kegagalan rumah tanggaku gara-gara utang. 

Semua orang menginginkan kemeriahan, tapi kalau kemeriahan itu tidak cocok untuk kita, buat apa dilaksanakan. 

Pengantin baru wajar baju baru, tapi apakah keluarga pengantin juga harus baju baru semua?

Dari apa yang aku alami ini, aku berpesan kepada siapapun yang membaca kisahku ini: "JANGAN BIASAKAN MINTA-MINTA KEPADA PENGANTIN".

Kalau kamu mau cantik dengan baju baru, beli sendiri. Kalau kamu tidak sanggup pulang menghadiri pesta adikmu lebih baik kamu kirim saja tumpak'mu (santunan) daripada harus adikmu yang kamu bebani bayar ongkos. 

Calon pengantin itu bukan kelebihan duit, jangan biasakan minta-minta sama calon pengantin. 

Semoga kisahku ini bisa menjadi pelajaran kepada kita semua. 


*Kisah ini berdasarkan penuturan dari NN di kota PKU.

Oleh: Marulak Sinurat

1 comment for "Bunga Pengantin"

  1. Kisah Yang Lumayan Menarik,Ternyata Masih ada saja Yah,Kejadian Seperti ini dalam Adat Kita Suku Batak,Terus??apakah keluarganya masih bertahan sampai sekarang???

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar bijak tanpa asumsi sesuai dengan topik artikel. Komentar spam atau share link yang tidak relevan akan dihapus. Terimakasih..