Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing Bukan Batak, Klaim Yang Blunder

 
Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing Bukan Batak, Klaim Yang Blunder

Belakangan ini atau bisa dikatakan sejak di Indonesia ada media sosial seperti Facebook, Tiktok dan lain sebagainya, ada-ada aja yang klaim bukan Batak dengan pernyataan atau propaganda seperti ini: Karo Bukan Batak, Simalungun Bukan Batak, Pakpak Bukan Batak, Angkola Bukan Batak, Mandailing Bukan Batak. Istilah yang disebut bagi mereka ini adalah kaum bukbak atau kaum bukan Batak.

Ini alasan saya untuk menjawab semua klaim-klaim tadi:

Faktor adanya kemiripan budaya di 6 puak (Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Angkola dan Mandailing)

Ibarat main catur, berhati-hatilah melangkah, biar nggak blunder. Mengklaim boleh, tapi harus dengan cara yang bijak tanpa ada unsur memecah belah. Sederhananya, cukup bawa marga tertentu disertai dengan bukti sejarah yang jelas dan persetujuan dari marga yang bersangkutan. Contoh: "marga Ginting bukan Batak", nggak usah bawa-bawa nama Karo, Mandailing dan lain sebagainya, terlalu jauh karena menghimpun daerah yang luas dan banyak marga didalamnya. Ingat.. semua ciri khas dan budaya seperti kalau kenalan biasanya nanya marga (martarombo dalam bahasa Batak Toba) adat, bahasa, tarian, aksara, ulos dari yang 6 puak ini (Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing) memiliki kemiripan loh.. dan kemiripan budaya dari 6 puak ini terjadi bukan baru-baru ini aja, tapi udah lama, bahkan udah ratusan tahun. Begitulah faktanya, bukan katanya. Nggak percaya? Silahkan telusuri sendiri dengan cara terjun langsung ke lapangan. Jadi sebelum mengklaim Karo Bukan Batak dan lain sebagainya, coba direnungkan mengapa dari dulu kemiripan budaya dari 6 puak ini bisa terjadi sampai sekarang? Mungkin bisa dicoba bertanya pada rumput yang bergoyang.

Faktor terjadinya perkawinan Assimilasi (perkawinan beda suku atau puak)

Oke.. kita menghargai pendapat yang berbeda, dan orang Batak juga bukan kekurangan saudara sesuku. Mungkin saja "tidak semua" marga-marga yang ada di 6 puak ini keturunan Raja Batak, tapi ketika terjadi proses perkawinan assimilasi (tentu sudah pasti dibarengi dengan Adat Batak) yang mungkin sudah lama terjadi (ratusan tahun) antara orang Batak dan bukan Batak, otomatis Darah Batak-nya kan udah ada pada yang "bukan Batak" tadi. Contoh: "marga Ginting Bukan Batak", boleh jadi ini benar kalau ada bukti sejarah yang jelas sesuai fakta, tapiii.. ada tapinya ya, ketika ada sebagian dari marga Ginting lahir dari rahim boru Tambunan atau ibunya orang Batak Toba, maka.. setuju atau tidak, suka atau tidak.. otomatis sebagian marga Ginting yang ibunya atau neneknya boru Tambunan tadi sudah jadi bagian dari keturunan Batak. Faktor perkawinan assimilasi ini juga kemungkinan besar sudah lama terjadi di Simalungun, Pakpak, Angkola dan Mandailing.

Faktor adanya hubungan kekerabatan marga antara marga yang ada di Toba dan di Simalungun, Karo, Pakpak, Angkola, Mandailing

Ketika seseorang mengklaim Karo Bukan Batak, tanpa disadari ini terlalu berani mewakili dari satu daerah tertentu tanpa persetujuan dari pihak yang mau diwakili. Bagaimana bisa orang dari daerah Karo mengklaim kalau Karo atau semua orang Karo Bukan Batak? Padahal faktanya di lapangan, tidak semua orang yang di Karo setuju dengan pendapat orang yang mengklaim tadi, karena di Karo ada beberapa marga yang memiliki hubungan kekerabatan dengan marga yang ada di Toba. Salah satunya marga Tarigan. Tarigan adalah keturunan Purba Simalungun yang awalnya dari Toba. Dalam artian, karena ada klaim Karo Bukan Batak ini, nggak mungkin semua marga Tarigan mendadak bukan Batak dan merasa tidak bersaudara lagi dengan marga Purba yang ada di Toba. Istilah orang Batak Toba mengatakan: Manang boha pe, mangkuling do mudar i. Kalaupun ada yang terprovokasi, itu cuman sebagian kecil karena kurang memahami dari mana asal marganya.

Kita lihat juga klaim dari daerah Simalungun, Simalungun Bukan Batak. Bagaimana juga orang dari daerah Simalungun bisa mengklaim Simalungun atau semua orang Simalungun Bukan Batak? Di Simalungun juga ada bebarapa marga yang berhubungan dengan Toba, yaitu Purba, Siboro, Girsang, Tondang dan lain sebagainya. Keempat marga ini adalah keturunan Purba dari Toba. Sinaga yang ada di Simalungun juga masih ada yang mengaku berasal dari Toba. Apa mungkin mereka semua mendadak mau terprovokasi? Saya kira itu hal yang bukan mudah.

Klaim dari daerah Pakpak, Pakpak Bukan Batak. Bagaimana bisa orang dari daerah Pakpak mengklaim kalau Pakpak atau semua orang Pakpak Bukan Batak? Dari daerah ini juga ada banyak marga yang memiliki hubungan kekerabatan dengan marga yang ada di Toba. Diantaranya: Cibro dengan Purba, Siketang dengan Sihotang, Ujung dengan Naibaho dan lain sebagainya. Apa mereka mau mendadak jadi bukbak atau bukan Batak? Nggak semudah itu, bos..

Klaim dari Angkola, Angkola Bukan Batak. Bagaimana bisa orang dari Angkola mengklaim kalau Angkola atau semua orang Angkola Bukan Batak? Di daerah ini ada marga Daulay, Pane, Siregar, Dongoran, Ritonga dll. Siregar yang ada di Angkola adalah salah satu marga memiliki hubungan kekerabatan atau persaudaraan dengan marga Siregar yang ada di Toba, keturunan Raja Lontung. Coba tanyakan pada marga Siregar yang ada di Angkola, dari mana asal mereka? Mayoritas akan menjawab: "Kami dari Muara (sebuah daerah di pinggiran Danau Toba), tapi sudah beradatkan Angkola". Inilah alasannya mayoritas mereka masih berpegang teguh mengaku sebagai orang Batak Angkola.

Klaim dari daerah Mandailing, Mandailing Bukan Batak. Bagaimana bisa orang dari daerah Mandailing mengklaim bahwa Mandailing atau semua orang Mandailing Bukan Batak? Tanpa kita sadari sebenarnya Tapanuli bagian selatan ini bisa dikatakan banyak didiami oleh keturunan Raja Borbor dari Toba, yaitu marga Harahap, Pulungan, Lubis, Matondang, Batubara. Marga lain ada Siregar, Hasibuan, Nasution dll. Dalam artian, apakah mereka semua orang dari marga-marga tadi mau disebut bukan orang Batak? Saya kira nggak semudah itu, nggak mungkin semuanya langsung mau terprovokasi cuman modal klaim blunder gitu aja..

Kalaupun ada yang mengklaim Mandailing itu bagian dari suku Minang atau Melayu atau yang lain, sebenarnya tidak masalah, dan itu sah kalau ada bukti sejarah.. tapi jangan disalahkan juga kalau ada marga tertentu dari Mandailing mengaku sebagai orang Batak Mandailing, hormati dong..! Karena itu adalah hak mereka dan ada buktinya. Buktinya apa? Budaya dan bahasa yang ada di Toba dan Mandailing bisa dikatakan hampir sama atau memiliki kemiripan 80%. Bandingkan bahasa Mandailing dengan bahasa Minang, ada nggak mirip bahasanya?

Sebaiknya, jadilah manusia yang bijak. Jangan jadi orang pintar tapi tak bisa ngajarin orang dan jangan jadi orang bodoh tapi tak mau diajarin. Hati itu tergantung akal. Mereka yang wawasannya seluas samudera, hatinya cenderung seluas semesta. Ia seperti burung yang bebas terbang dan memahami semua situasi di bawah. Mereka yang wawasannya seluas tempurung, hatinya cenderung seluas empang. Ia seperti katak yang tidak paham kenapa ia hanya bisa mengorek dan menunggu lewatnya makanan. Ini ilmu paham, bukan sekedar ilmu meriwayatkan. Karena banyak periwayat ilmu, tapi hanya sedikit yang memahaminya.
Kenapa orang Toba yang lebih menonjol atau lebih terkenal sebagai orang Batak. Ya, ada bebarapa alasannya:
  1. Karena marga-marga Batak, lebih banyak (ratusan) dari Toba dibanding dari Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, dan Mandailing
  2. Pada umumnya orang Batak yang ada di Toba, setiap berkenalan dengan suku lain, selalu mengaku sebagai orang Batak, bukan orang Toba
Lalu kapan orang Batak yang di Toba itu mengaku sebagai orang Toba?
  • Ketika ada yang bertanya: "Kamu Batak mana?" Lalu kita jawab: "Batak Toba"
  • Ketika berkenalan atau martarombo dengan sesama Batak atau yang beda puak dengan bertanya: "Marga apa, bang, lae/ito?" Kemudian kita jawab: "Marga Purba, bang, lae, ito". Karena marga Purba terkenal berasal dari Toba dan Simalungun, maka tidak jarang akan muncul pertanyaan lanjutan seperti ini: "Purba mana? Toba atau Simalungun?" Kemudian kita jawab lagi seperti ini: "Toba"

Pernah dengar Jong Batak?

Jong Batak adalah perkumpulan pemuda yang berasal dari Tapanuli, yang didirikan oleh Sanusi Pane dan Amir Sjarifuddin Harahap. Bertujuan untuk mempererat persatuan dan persaudaraan sesama pemuda Batak yang berasal dari Tapanuli. Tokoh yang terkenal dari organisasi yang berdiri pada tahun 1926 ini adalah Amir Sjarifuddin Harahap, Todung Sutan Gunung Mulia Harahap, Sanusi Pane, Adam Malik Batubara (Wakil Presiden RI yang ke 3, Presiden Majelis Umum PBB 1971), Saleh Said Harahap, dan Arifin Harahap. Awalnya mereka bergabung dengan organisasi Jong Sumatera, namun karena organisasi tersebut didominasi oleh orang Minang, maka mereka memisahkan diri. Jong Batak juga terlibat di Kongres Pemuda II, dimana lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Nah, kalian yang klaim bukan Batak ini lahir tahun berapa? Apakah kalian merasa lebih hebat dan lebih tua dari beberapa tokoh Jong Batak ini? Apa sih tujuan kalian menyebarkan politik pecah belah ini? Mau memecah belah suku Batak atas nama perbedaan agama gitu, atau gimana? Nggak usah mimpi deh..! Orang bijak akan menilai klaim yang blunder ini sebagai penyebaran pemahaman yang menyesatkan. Ini zaman modern bos, orang Batak tak semudah itu bisa dipecah belah. Jadi nggak usah pake politik divide et impera (dipecah belah, kemudian dikuasai). Orang Batak nggak merasa ada untung ruginya, kalau ada yang teriak² kami bukan Batak. Masih banyak orang Batak yang bijak, berwawasan luas, moderat, jiwa nasionalisme'nya tinggi, dan tidak anti perbedaan agama.

Penjelasan terkait klaim Bukan Batak karena adanya unsur perbedaan agama

Perlu dipahami secara luas, bagi yang pemikirannya masih sempit karena adanya perbedaan agama. Suku Batak memang mayoritas menganut agama Kristen, tapi Batak itu bukan berarti pasti Kristen, Batak itu bukan berarti pasti makan daging babi. Orang Batak itu ada juga yang beragama Islam dan ada yang beragama Malim atau yang sering disebut Parmalim (Parmalim adalah agama yang ada lebih dulu dianut orang Batak, sebelum masuknya agama Kristen dan Islam ke Tanah Batak), sama halnya dengan di daerah Jawa sana. Tidak semua orang Jawa itu menganut agama Islam, karena faktanya sebagian orang Jawa ada juga yang menganut agama Kristen. Di Toba, orang Batak yang menganut agama Kristen dan Islam itu akur, karena tidak lepas dari adat Batak yang menjunjung tinggi nilai adat yaitu: Saling mengasihi dan saling menghormati.

Jadi orang Batak itu bukan berarti pasti Kristen dan bukan berarti pasti makan daging babi

Perlu dijelaskan sedikit tentang daging babi. Di dunia ini ada banyak penggemar daging babi, mulai masyarakat Eropa, Amerika, Australia, hingga Asia. Artinya, daging babi ini bukan makanan yang haram bagi mayoritas umat manusia di dunia ini. Maksudnya, demi kedamaian.. marilah kita saling menghargai dan saling menghormati.. haram menurut agamamu, bukan berarti harus diharamkan penganut agama lain.

Masyarakat Batak Toba (seperti halnya Nias, Bali, Minahasa, NTT, Papua, Tana Toraja, dll) pada umumnya pemakan daging babi, walau bagi penganut kepercayaan seperti Parmalim dan sebagian penganut agama Kristen (Advent), tidak mengkonsumsi daging babi. Maka, tak bisa dipaksa untuk mengkonsumsi atau mengharamkan. Karena semua orang bebas memilih agama mana yang mau diyakini, bebas memilih jalan mana yang mau dilalui.

Yang perlu dibangun ialah: saling pengertian (understanding), saling menghormati. Bukan tengkar halal haram karena tidak akan ketemu konsensus sosial, yang ada malah mempertajam friksi.

Dalam perkembangannya, daging babi menjadi makanan yang disukai dan perlahan jadi bagian tradisi, membudaya, dan itu sah.. Namun bukan adat-istiadat. Pengertian adat istiadat, lebih berupa: tata, kebiasaan, aturan, norma-norma sosial yang membentuk jati diri dan nilai-nilai suatu masyarakat. Dalam pelaksanaan adat Batak Toba, awalnya tidak ada penyertaan daging babi, hanya kerbau, sapi, atau kuda. Karena mahal, maka daging babi menjadi alternatif dan lantas disebut "na marmiak" karena dagingnya banyak lemak.

Dalam aturan Adat Batak, tidak ada sistem "dikeluarkan" atau "dipecat" dari suku Batak kalau ada yang pindah agama.
Karena kamu beda agama, padahal kita masih satu bapak, satu ibu, satu marga, satu suku.. jadi tidak dianggap lagi sebagai saudara. Bukan begitu konsepnya, bos.. itu namanya tidak adil dalam pikiran. Apapun yang terjadi, saudara tetap saudara, walaupun beda agama.
Jadi kalau merasa bukan Batak, jangan lagi pakai bahasa Batak, jangan pakai marga Batak, jangan pakai adat Batak dan ulos Batak. Nyanyi lagu Batak, tidak masalah. Jadilah seperti orang non Batak pada umumnya, hidup tanpa ciri khas dan budaya Batak. 

Bagi saudara yang merasa orang Batak apapun agamanya dan dimanapun berada, yang tinggal di kampung, baik yang tinggal di perantauan, tetaplah jadi orang Batak sejati yang mencintai budaya Batak dan moderat (menghargai agama lain), jangan mau dipecah belah oleh kaum bukan Batak, jangan biarkan budaya Batak dijajah oleh budaya luar. Ajarkanlah selalu kepada anak-anak saudara bahasa Batak dan pemahaman tentang budaya Batak, agar budaya Batak tetap selalu terjaga dan lestari selamanya.

Horas, Menjuah-njuah, njuah-njuah.. Salam sehat dan semangat pagi..

Post a Comment for "Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing Bukan Batak, Klaim Yang Blunder"